Sabtu, 21 September 2013

Catatan Liburan: Akhirnya ke Bromo Juga...


Pesona Gunung Batok

Pada kesempatan libur weekend tanggal 7 September 2013, saya dan teman-teman Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Airlangga (LPPM UA) pergi ke Bromo. Akhirnya kegiatan yang sudah kami rencanakan satu bulan sebelumnya menjadi kenyataan. Berangkat dari Surabaya tanggal 7 September 2013 malam. Tepat jam 19.30 WIB kami berangkat dengan mengendarai ELF yang di nahkodai oleh Bos gank. Perkiraan kami sampai ditujuan sekitar jam 23.30 WIB. Karena keahlian berkendara yang dimiliki bos gank sangat hebat, maka kami sampai ditujuan sekitar jam 22.00 WIB. Benar-benar perjalanan yang sangat express,  menakjubkan, penuh canda tawa, namun tak lupa berdoa.
Satu pekan sebelum berangkat sempat kami – berempat belas – berbeda pendapat mengenai perjalanan menuju puncak. Ada yang usul naik hardtop, ada yang usul jalan kaki. Saya yang termasuk mengusulkan naik hardtop, karena memang berdasarkan cerita teman-teman yang sudah berpengalaman pergi ke Bromo perjalanannya sangatlah jauh, belasan kilometer. Entah berapa tepatnya saya kurang tahu. Akhirnya, ketika rapat berlangsung  kami memutuskan untuk jalan kaki. Memang benar juga, yang namanya ke gunung itu ya didaki. Lebih terasa perjuangannya.
Lautan Pasir Kaldera di area "pasir berbisik"

Perjalanan dari Surabaya sampai ke parkiran Bromo dengan ELF masih menyisakan waktu lama untuk melanjutkan perjalanan sampai ke puncak. Dari jam 22.00 WIB kami menyempatkan untuk makan malam dengan nasi kotak yang sudah kami bawa dari Surabaya dan pergi ke toilet untuk ber-ekskresi sampai tuntas, agar perjalanan kami sampai ke puncak tidak terganggu karena kebelet.
Tepat jam 01.00 WIB dinihari, kami mulai berangkat dengan jalan kaki. Udara dingin yang manusuk tulang tak membuat kami menggigil karenanya. Dengan penuh semangat kami lakukan perjalanan yang menyenangkan ini. Kabut bromo yang perlahan turun sempat membuat penglihatan kami kabur. Arah tanda tak terlihat. Cahaya senter pun tak kuasa menyinari penglihatan kami. Sempat kami bingung tak tahu arah karena diantara kami tidak ada yang membawa kompas.  Ada beberapa pengendara motor yang lalu lalang menawarkan guide pada kami. Namun kami menolak. Karena ada dua teman kami – bos gank dan mas Reno – yang memang paham jalan, hanya saja tak terlihat karena tertutup kabut . Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti sejenak, menunggu sampai kabut perlahan menghilang baru kami berani melanjutkan perjalanan. Beberapa langkah kami berjalan, kabut pun turun lagi. Dan kami berhenti lagi. Satu-satunya tanda yang kami jadikan patokan adalah Gunung Batok, itu pun tak terlihat karena tertutup kabut. Kami menghentikan perjalanan lagi sampai kabut menghilang. Lumayan lama juga kami menunggu sampai kabut hilang. Udara terasa semakin dingin kalo tubuh ini hanya berdiam diri dan tidak digunakan untuk bergerak. Akhirnya kami sempatkan untuk lari-lari kecil agar tubuh terasa hangat. Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, kabut sejenak menghilang. Dan Gunung Batok pun kelihatan. Kami bersiap melanjutkan perjalanan menuju ke arah Gunung Batok itu dengan menyusuri lautan pasir Kaldera.
Jam 03.00 WIB tepat kami tiba di pura yang biasanya digunakan masyarakat Tengger untuk perayaan Kasodo. Di sana kami istirahat sejenak sambil menikmati  hangatnya api unggun dan kopi panas yang disediakan oleh penjual di samping pura. Di pagi yang masih gelap ini, kami juga menyempatkan untuk foto-foto. Kira-kira 30 menit berlalu, kami melanjutkan perjalanan lagi menyusuri lautan pasir. Entah sudah berapa kilometer kami berjalan, bunyi nafas ngos-ngosan sudah terdengar lagi. Namun tidak bagi bos gank dan mas Reno, mereka berdua terlihat biasa saja, tak tampak seperti orang kelelahan.
Tangga bukit penanjakan menuju kawah
Hampir Sunrise
Lokasi yang dituju akhirnya sudah terlihat, tinggal beberapa langkah lagi kami sampai kesana, yaitu bukit penanjakan menuju kawah Bromo. Sebelum kami sampai pada kawah, kami harus menaiki sekitar 135 anak tangga. Cukup menguras tenaga untuk sampai pada tangga paling atas. dari sinilah akan terlihat kawah gunung Bromo yang masih menyimpan asap belerang yang tebal seakan menyapa pengunjung yang datang. Adzan subuh mulai terdengar, langit sudah mulai muncul garis merah pertanda matahari akan terbit. Setelah sholat subuh di bukit ini, saatnya kamera ON, pasang tampang paling keren, dan manikmati sunrise
kilau sunrise ^^
Ima dalam perjalanan pulang melewati lautan pasir (lagi)
Adventure with Angry Birds Family

Special thanks to :
bos gank, mas Reno, mas Adi, mas Dedy, mas Abi, mas Andi, dek Ardi, mbak Liya, mbak Nanin, mbak Winda, Brina, miss wenda, dan Ifa.

3 komentar:

  1. wiii... kita perjalanan selama pas 1,5 jam... PP jalan kaki itu lumayan juga ya.... mengingatkanku pada aktivitas dulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. yups... pas SMA aku aktif di pecinta alam

      Hapus